Minggu, 25 Februari 2018

SUSI VS SANDI


Susi Menang Telak Lawan Sandiaga

Antusiasme warga Jakarta dan sekitarnya menonton pertandingan Menteri Susi vs Wagub DKI Sandiaga di Danau Sunter, Jakarta (25/2).
 Republika/Hartifiany Praisra


Antusiasme warga Jakarta dan sekitarnya menonton pertandingan Menteri Susi vs Wagub DKI Sandiaga di Danau Sunter, Jakarta (25/2).

Susi sampai di garis akhir lima menit lebih cepat dari Sandiaga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menang telak dalam duel renang melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno dalam pertandingan renang di Danau Sunter, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahad (25/2). "Luar biasa," ucap Susi setelah naik dari danau.
Susi dan Sandiaga mulai menceburkan diri ke danau sekitar pukul 09.23 WIB. Susi tiba di titik akhir sekitar pukul 09.50 WIB.
"Pertama, memang perempuan lebih kuat dari laki-laki," kelakar Susi. "Manusia jangan berani melawan teknologi," lanjut dia.
Menggunakan paddling, Susi sampai di garis akhir lebih cepat sekitar lima menit dari Sandiaga. Pria berusia 49 tahun itu berenang tidak menggunakan alat apapun.
Setiba di garis akhir, Susi mengambil bendera. Ia langsung menceburkan diri kembali ke air dan menyusul Sandi. Ia memberikan semangat hingga di akhir garis finis.
Berdasarkan pantauan awak media, selama 30 menit lebih pertandingan berjalan, Susi lebih dominan dibandingkan Sandi. Meskipun begitu Susi tetap menunggu Sandi di garis finis.
Sebelum pertandingan selesai, Susi yang lebih cepat daripada Sandi bahkan mendayung hingga dua kali putaran. Seharusnya jarak tempuh yang ditandingkan hanya satu kilometer. Namun, karena Sandi lebih lama, Susi mengulang rute perlombaan.
Festival Danau Sunter berlangsung pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Dalam ajang tersebut Sandiaga dan Susi sama-sama memberikan konsekuensi kekalahan. Sandi harus membersihkan seluruh danau di Jakarta apabila ia kalah. Sementara, Susi harus mengajak Sandiaga berwisata ke Wakatobi apabila ia kalah.

Sumberhttp://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/18/02/25/p4oswt328-susi-menang-telak-lawan-sandiaga.
Hampir Menang, Susi Terjun dari Paddle Board dan Berenang Bareng Sandi Nursita Sari Kompas.com - 25/02/2018, 10:30 WIB Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berenang saat adu cepat melawan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berenang saat adu cepat melawan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss. (MAULANA MAHARDHIKA) JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, mencapai garis finis secara bersamaan pada pertandingan di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/2/2018). Dalam pertandingan tersebut, Susi mulanya berdayung dengan paddle board, sementara Sandi berenang. Mereka bertanding di jarak 2 x 500 meter. Di tengah pertandingan, Susi sempat mendayung ke tepi danau untuk menyapa warga yang menonton pertandingan mereka. Sementara Sandi beristirahat sejenak setelah menempuh jarak 500 meter pertama. Susi kemudian menghampiri Sandi. Mereka melanjutkan pertandingan di 500 meter berikutnya. Baca juga : Ada Menteri Susi Vs Sandiaga, Area Danau Sunter Jadi Lautan Manusia Berdasarkan pantauan Kompas.com, Susi unggul jauh dari Sandi. Susi sempat berhenti di tengah danau untuk menunggu Sandi. Saat itu, Susi tampak menggoyang-goyangkan paddle board-nya menggunakan kaki. Dia juga minum terlebih dahulu di tengah danau. Saat Sandi mendekatinya, Susi kembali mendayung. Dia mendekati bendera yang berada di garis finis. Susi duduk dan memegang bendera itu. Aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebelum adu cepat melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss. Aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebelum adu cepat melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss.(MAULANA MAHARDHIKA) Namun Susi tidak mengangkat bendera itu. Dia lalu terjun ke dalam danau dan menghampiri Sandi. Mereka berenang bersama-sama ke arah bendera dan memegangnya. Susi kemudian mengangkat tangannya ke udara. "Pemenangnya adalah dua-duanya," kata pembawa acara menggunakan pengeras suara. Setelah itu, Susi dan Sandi naik ke palka yang mengapung di danau. Mereka mengangkat tangan sebagai tanda selebrasi kemenangan. Keduanya bergandengan dan berfoto bersama.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hampir Menang, Susi Terjun dari Paddle Board dan Berenang Bareng Sandi", http://megapolitan.kompas.com/read/2018/02/25/10305391/hampir-menang-susi-terjun-dari-paddle-board-dan-berenang-bareng-sandi.
Penulis : Nursita Sari
Editor : Egidius Patni
Hampir Menang, Susi Terjun dari Paddle Board dan Berenang Bareng Sandi Nursita Sari Kompas.com - 25/02/2018, 10:30 WIB Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berenang saat adu cepat melawan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berenang saat adu cepat melawan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss. (MAULANA MAHARDHIKA) JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, mencapai garis finis secara bersamaan pada pertandingan di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/2/2018). Dalam pertandingan tersebut, Susi mulanya berdayung dengan paddle board, sementara Sandi berenang. Mereka bertanding di jarak 2 x 500 meter. Di tengah pertandingan, Susi sempat mendayung ke tepi danau untuk menyapa warga yang menonton pertandingan mereka. Sementara Sandi beristirahat sejenak setelah menempuh jarak 500 meter pertama. Susi kemudian menghampiri Sandi. Mereka melanjutkan pertandingan di 500 meter berikutnya. Baca juga : Ada Menteri Susi Vs Sandiaga, Area Danau Sunter Jadi Lautan Manusia Berdasarkan pantauan Kompas.com, Susi unggul jauh dari Sandi. Susi sempat berhenti di tengah danau untuk menunggu Sandi. Saat itu, Susi tampak menggoyang-goyangkan paddle board-nya menggunakan kaki. Dia juga minum terlebih dahulu di tengah danau. Saat Sandi mendekatinya, Susi kembali mendayung. Dia mendekati bendera yang berada di garis finis. Susi duduk dan memegang bendera itu. Aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebelum adu cepat melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss. Aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebelum adu cepat melawan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Danau Sunter, Jakarta Utara, Minggu (25/02/2018). Festival tersebut diadakan untuk menjawab tantangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga menjadikan Danau Sunter seperti di Geneva, Swiss.(MAULANA MAHARDHIKA) Namun Susi tidak mengangkat bendera itu. Dia lalu terjun ke dalam danau dan menghampiri Sandi. Mereka berenang bersama-sama ke arah bendera dan memegangnya. Susi kemudian mengangkat tangannya ke udara. "Pemenangnya adalah dua-duanya," kata pembawa acara menggunakan pengeras suara. Setelah itu, Susi dan Sandi naik ke palka yang mengapung di danau. Mereka mengangkat tangan sebagai tanda selebrasi kemenangan. Keduanya bergandengan dan berfoto bersama.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hampir Menang, Susi Terjun dari Paddle Board dan Berenang Bareng Sandi", http://megapolitan.kompas.com/read/2018/02/25/10305391/hampir-menang-susi-terjun-dari-paddle-board-dan-berenang-bareng-sandi.
Penulis : Nursita Sari
Editor : Egidius Patnistik

Senin, 19 Februari 2018

John Stott


John Robert Walmsley Stott

John Stott

John Robert Walmsley Stott (lahir di London, Inggris , 27 April 1921 – meninggal di Lingfield, Surrey, Inggris, 27 Juli 2011 pada umur 90 tahun) atau dikenal dengan John Stott adalah seorang tokoh Kristen asal Inggris, dikenal di berbagai penjuru dunia sebagai pengkhotbah, penginjil, dan penulis.
Menurut Majalah Time di Amerika Serikat tahun 2005, John Stott masuk sebagai salah satu dari "100 tokoh paling berpengaruh di dunia".Selama bertahun-tahun ia menjabat sebagai rektor dari Gereja All Souls di London. Ia juga menjadi pemimpin para penginjil Inggris bagi misi Kristen di seluruh dunia, salah satunya menjadi perancang terbentuknya Pengakuan Lausane di Pilipina pada tahun 1974. Dia menjabat sebagai direktur London Institute for Contemporary Cristianity, Insitut di Inggris yang memberi perhatian bagi perkembangan kekristenan, salah satu peran penting bagi negara-negara dunia ketiga.

John Stott lahir pada tahun, anak dari Sir Arnold Stott dan Lady Lili Stott. Ayahnya mendidik dengan penuh kasih sayang.Di rumahnya, ia mendapatkan rasa humor dengan cerita Saki yang sering ia baca kala masih anak-anak hingga terbahak-bahak.Dia bergabung di Sekolah Minggu Gereja All Souls.Pendidikannya di St. Barnabas agaknya mempengaruhinya sebagai orang yang taat dan berintegritas.Di mata Sekretarisnya, Lambeth MA, yang selama 55 tahun mendampinginya, ia merupakan orang yang penuh iman, apa yang ia pikirkan tentang kebaikan, ia lakukan dengan sepenuh hati.
John Stott menghembuskan nafas terakhir pada sore hari, 27 Februari 2011 di College of St Barnabas, Surrey, Inggris, tempat ia terakhir mengajar dan menjadi imam.

Pendidikan:
- Trinity College,
- Cambridge,
- Ridley Hall Theological College.

John Stott tidak menikah seumur hidupnya. Ia berkata, "Karunia hidup bujangan adalah lebih merupakan pekerjaan daripada pemberdayaan, meskipun dapat dipastikan Allah itu setia dalam menunjang mereka yang dipanggil-Nya.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/John_Stott#Riwayat_Hidup_Ringkas


John Stott juga merupakan penulis buku-buku Kristen.

John Stott telah melahirkan banyak pemikiran gemilang dalam karya tulis baik itu buku, seminar dan lainnya. 

Karya-karya John Stott sering mengarhkan pembaca untuk memahami doktrin dasar kekristenan. 

Salah satu buku karya John Stoot, "Why I am a Christian". Buku itu menjelaskan keputusan hidup seorang John Stott yang lahir dari iman dan pemahaman yang benar akan arti menjadi seorang Kristen, tantangan orang Kristen, dasar menjadi orang Kristen, serta bagaimana orang Kristen memahami tentang ketuhanan Yesus, Tritunggal dan doktrin dasar lainnya. Bukunya sangat ringkas tetapi isinya sangat dalam untuk dipahami. Buku "Allah, Dosa dan Anda" juga menjadi salah satu buku yang sangat bagus untuk dibaca. Buku itu mengajak pembaca untuk memahami tentang Allah yang dituliskan oleh Alkitab, tanggapn Allah terhadap dosa, definis dosa dan akibatnya, kebutuhan manusia akan seorang juruselamat dan karya Yesus Kristus. 

Buku karya terakhir John Stott adalah "Murid Yang Radikal". Buku ini berisi tentang apa artinya mengikut Yesus melalui eksplorasi delapan aspek penting yang sering diabaikan oleh orang-orang Kristen. Dalam bukunya yang terakhir ini, John Stott menyampaikan apa yang telah ia tampilkan dan jalani sepanjang hidupnya: bahwa mengikut Yesus berarti membiarkan Dia mengarahkan agenda hidup kita. Kita tidak boleh menetapkan batasan-batasan ke-Tuhanan-nya atau menghindarkan diri dari harga yang harus dibayar karena komitmen kita. Dia memanggil, kita mengikutNya. Pesan utama dari Murid yang Radikal, layaknya kesaksian dari kehidupan dan pelayanan John Stott, adalah pesan yang sederhana, klasik, dan personal namun radikal: Yesus adalah Tuhan. 

John Stott dikenal di seluruh dunia sebagai seorang pengkhotbah, penginjil, dan penulis. Selama bertahun-tahun menjabat sebagai rektor dari dari gereja All Souls di London. Ia juga menjadi perancang utama terbentuknya Lausanne Covenant (1974). Ia telah menghasilkan puluhan buku yang telah terjual jutaan kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan dalam puluhan bahasa. John Stott juga diakui oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari “100 tokoh paling berpengaruh di dunia.” (Christianity Today, Kristiani Pos) Selamat jalan, semoga karya-karya dan teladan yang engkau tinggalkan menjadi berkat bagi banyak orang.

Selasa, 06 Februari 2018

PP (Pendidikan Penting)





Berbicara tentang pendidikan kita semua pasti sudah tahu bahwa betapa pentingnya pendidikan tersebut. Pendidikan, kemampuan, pengetahuan merupakan salah satu modal yang kita miliki untuk hidup di zaman yang serba sulit ini. 


Mengapa dikatakan demikian?

Kita tentu sudah bisa menjawabnya, apa hal pertama yang dilihat bila kita ingin mengajukan surat lamaran perkerjaan? Apa yang kita butuhkan ketika ingin memulai suatu bisnis atau usaha?

Tentu saja pendidikan, kemampuan, wawasan dan pengetahuanlah yang kita butuhkan. Di dalam bangku pendidikan banyak sekali hal yang kita dapatkan.Tetapi entah mengapa banyak sekali warga di Indonesia ini yang tidak mengenyam bangku pendidikan sebagaimana mestinya, khususnya di daerah-daerah terpencil di sekitar wilayah Indonesia ini. Sepertinya kesadaran mereka tetang pentingnya pendidikan perlu ditingkatkan.

Sebagaimana yang diungkapkan Daoed Joesoef tentang pentingnya pendidikan : “Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia” Dan tentulah dari pernyataan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan.

Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa suatu Pendidikan tentunya akan mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas baik dari segi spritual, intelegensi dan skill dan pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan.

Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidik harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka tentunya peningkatan mutu pendidikan juga berpengaruh terhadap perkembangan suatu bangsa. Kita ambil contoh Amerika, mereka takkan bisa jadi seperti sekarang ini apabila –maaf– pendidikan mereka setarap dengan kita. Lalu bagaimana dengan Jepang? si ahli Teknologi itu? Jepang sangat menghargai Pendidikan, mereka rela mengeluarkan dana yang sangat besar hanya untuk pendidikan bukan untuk kampanye atau hal lain tentang kedudukan seperti yang–maaf– Indonesia lakukan. Tak ubahnya negara lain, seperti Malaysia dan Singapura yang menjadi negara tetangga kita.

 

Senin, 05 Februari 2018

Jayawijaya, Papua


 G.Jayawijaya

                                                              

Fakta Gunung Jayawijaya di Papua yang Belum Kamu Ketahui


Bila wisatawan umum mengenal Papua dengan Raja Ampat, maka para pendaki lebih mengenalnya lewat gunung Jayawijaya. Dengan statusnya sebagai gunung tertinggi di Indonesia, hampir semua pendaki memimpikan menginjakan kakinya di puncak gunung tersebut.

Namun, sebelum melakukan pendakian di gunung Jayawijaya, ada baiknya kamu mengetahui terlebih dahulu tentang 11 fakta gunung Jayawijaya yang sudah kami siapkan di bawah ini, sebagai berikut.


Selain Jayawijaya, Gunung Ini Memiliki 2 Nama Lainnya

Cartenz Pyramid - Puncak Soekarno

Pada mulanya, gunung ini bernama Cartenz Pyramid. Penamaan tersebut dimaksudkan untuk menghormati orang yang pertama kali menemukannya, seorang petualang berkebangasaan Belanda, yakni Jan Cartenz, pada tahun 1623. Kala itu, ia dianggap pembohong karena mengaku pernah melihat sebuah gunung tertutup salju di kawasan tropis, Indonesia.

Setelahnya, pada masa pembebasan tanah Irian dari penjajahan, namanya diubah menjadi Puncak Soekarno. Hal ini ditujukan untuk menghormati presiden pertama di Indonesia.
Kemudian, dengan campur tangan politik, pada tahun 1960an, pada masa pergantian orde lama kepada orde baru, namanya diubah kembali menjadi gunung Jayawijaya. Nama tersebut adalah nama yang dipakai hingga saat ini.


Heinrich Harrer Merupakan Pendaki Pertama yang Mampu Mencapai Puncaknya


Pada tahun 1962, untuk pertama kalinya puncak gunung Jayawijaya di jamahi oleh manusia. Adalah Heinrich Harrer yang berhasil melakukannya, ia dibantu oleh 3 anggota ekspedisi lainnya, yakni Russell Kippax, Bertus Huizenga dan Robert PhilipTemple.

Heinrich Harrer sendiri merupakan seorang pendaki yang sangat terkenal di dunia pendakian, setelah ia menuliskan pengalamannya dalam novel Seven Years In Tibet. Kamu dapat menyaksikan kisahnya dalam film dengan judul yang sama, sebab novel tersebut sudah diangkat menjadi sebuah film.

Pendakian Heinrich Harrer di gunung Jayawijaya seakan menginspirasi para pendaki lainnya. Pada tahun 1964, Letkol Azwar Hamid dan Direktorat Topografi Angkatan Darat berhasil mencapai puncak Jayawijaya.



Selain Menjadi Gunung Tertinggi di Indonesia, Cartenz Juga Merupakan Gunung Tertinggi di Benua Australia

Selain Menjadi Gunung Tertinggi di Indonesia, Cartenz Juga Merupakan Gunung Tertinggi di Benua Australia





Dengan ketinggian puncaknya yang mencapai 4.884 mdpl, gunung ini merupakan gunung tertinggi di Indonesia, juga sebagai gunung tertinggi di benua Australia dan menempati urutan ke-2, setelah gunung Hkakabo Razi (5.881 mdpl) di Myanmar, dalam jajaran gunung tertinggi di Asia Tenggara.